11 April 2018

Tengka




Barangkali, ‘tengka’ dibaca téngka dalam Bahasa Madura) ini berasal dari “tingkah”, “tingkah polah”. Dalam KBBI, tingkah berarti: (1) ulah (perbuatan) yang aneh-aneh atau yang tidak sewajarnya; lagak; canda, dan; (2) perangai; kelakuan. Ketika sebuah kata telah dipinjam untuk selanjutnya dimiliki oleh bahasa tertentu, bisa jadi maknanya bergeser, bahkan menyimpang. Contohnya adalah “kalimat” dalam bahasa Arab yang berarti “kata”, tetapi bermakna “satuan bahasa yang berdiri sendiri (mandiri) dan predikatif” di dalam bahasa Indonesia (yang disebut “kalam” dalam bahasa asalnya, Bahasa Arab).

Tengka adalah aturan tidak tertulis yang beredar di dalam kehidupan masyarakat, yang mengatur pola-pola dan tata cara berhubungan serta berkomunikasi antara-sesama anggota masyarakat/lingkungan. Misalnya, jika ada tetangga yang wafat, tetangga yang sebelahnya pergi melayat; jika ada hajatan, maka tetangga sebelahnya harus ikutan membantu atau menghadiri undangannya jika diundang. Inilah yang disebut tengka di dalam tradisi orang Madura.

Ada istilah “ompangan”. Di Jawa disebut (kalau tak salah) “baleke”. Ini bagian dari tengka. Ompangan adalah mengembalikan sumbangan yang pernah disumbangkan orang lain kepada kita terutama pada saat hajatan. Ompangan, umumnya, dicatat. Ompangan memang berkesan pamrih, dan tentu saja memberatkan bagi pihak-pihak tertentu. Di sebagian tempat, tradisi seperti ini tak ada.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang pulang dari Jakarta. Setelah berbasa-basi, saya simpulkan kalau kepulangannya itu demi tengka. Aslinya, dia tidak ingin pulang karena baru saja pergi ke perantauan. Kata dia, sang paman hendak membajak sawah. Orangtuanya menyuruh dia pulang agar turut bergotong royong.

Secara hitung-hitungan, sebetulnya dia bisa memberi uang kepada seseorang untuk menggantikan posisinya, tugasnya, yaitu membantu si paman dalam membajak. Jelas, secara matematis, kalkulasi ekonomi, ia butuh ongkos banyak untuk pulang dari Jakarta ke Sampang, lebih-lebih dia pulang bersama istrinya, harus menutup toko kelontongnya, dan tentu saja harus kehilangan banyak waktu. Tapi, apa daya, tengka-lah yang menuntutnya harus begitu, melampai logika bisnis tadi, demi aturan aturan di dalam masyarakat yang tak tertulis itu.

Di beberapa tempat, di Madura, banyak orang yang ingin umroh—karena kemungkinan untuk berkesempatan naik haji sudah sangat tipis—namun pada akhirnya menggagalkan sendiri rencananya atas satu pertimbangan tengka ini. Apa pasal? Uang untuk umroh cukup, tapi untuk tengka-nya tidak. Ada tengka yang besar setelah umroh, antara lain; menyiapkan pesta penyambutan; menyuguhi semua tamu dengan makanan berat, memberi mereka oleh-oleh. Terkadang, biaya tengka yang dikeluarkan sehabis umroh bisa dua kali lipat lebih dari biaya umrohnya. Memang, yang demikian ini tidak berlaku di semua daerah. Tetapi, hal seperti ini benar-benar ada di dalam kehidupan masyarakat.

Kalau diamati, di balik aturan tengka itu terdapat aturan paksaan agar kita peduli terhadap sesama. Sebab, berbuat baik, kalau tidak dipaksa dan diatur secara ketat, terkadang dilampaui juga, disepelekan juga. Orang akan berpikir tentang tengka itu, wong tidak wajib (secara fikih) dan seterusnya. Makanya, adat lalu membuat aturan tidak tertulis agar masyarakat terbiasa dalam berbagi, biasa saling menolong, biasa saling membantu. Dampak terbaik dari hal ini adalah rasa guyub yang sangat tinggi, tidak individualistik seperti mudah ditemukan di masyarakat yang tidak mengenal tradisi seperti ini, di kota besar, misalnya. Dampak buruknya? Antara lain adalah seperti yang disebutkan di muka.


23 Maret 2018

Esai Sebelum Jumatan


foto karya Teguh Dewabrata
Saat Anda susah bertemu Bupati, di Jumatan itu bisa terjadi. Saat Hamdan yang bekerja shift malam sebagai satpam dan Joko yang buka lapak di pasar sepanjang siang nyaris tidak pernah bersirobok muka dalam sepekan (padahal mereka itu satu RT dan RW, lho) di momen salat jumatlah mereka punya kemungkinan bertemu. Yang kaya dan miskin dapat berdiri sejajar di saf depan. Yang jelek dan tampan juga tidak grogi berdiri bersisian, bersandingan.

Ada banyak rahasia renungan sosial dalam salat berjamaah, lebih-lebih di dalam satu-satunya salat-wajib-jamaah: salat Jumuah. Jumatan adalah ‘kopdar’ masyarakat semua lapisan. Jika selama ini orang-orang terpisah karena sekat kelas-kelas sosial, Jumatanlah yang menyatukannya. Ia meleburkan batas antarkelas.

Sebagaimana diketahui, di dalam Islam, salat berjamaah sangat dianjurkan (sunnah) untuk 5 waktu maktubah. Tapi, khusus untuk salat Jumat, statusnya dinaikkan menjadi wajib. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk antipati dan antisosial, misalnya dengan terus-menerus di dalam hotel, di gua, di bawah tempurung, selagi ada jumatan di muka bumi. Jumatan adalah pemersatu suku, ras, dan antargolongan.

Dalam kitab Usfuriyah (pada bagian cerita tambahan untuk pembahasan hadis kedelapan) disebutkan kisah tentang Maisaroh bin Khunais. Singkatnya, ia bicara dengan orang mati yang menyatakan bahwa orang di dunia itu sungguh rugi kalau tidak jumatan. Menurutnya, jumatan adalah ‘haji’ yang dapat dilakukan empat kali dalam sebulan. Terlepas bahwa yang dimaksud haji di sini adalah makna konotatif, yang dapat digarisbawahi adalah nilai jumatannya.

Jumat adalah hari istimewa dalam Islam, sebagaimana umat Nasrani punya hari Minggu dan Yahudi punya hari Sabtu. Dalam Islam, jika enam hari lainnya adalah pelayan, Jumat adalah bos-nya. Ibaratnya begitulah. Salat Jumat adalah momen krusial dalam sepekan. Contoh: di hari itu, kita disunnahkan potong kuku, potong bulu-bulu, termasuk rambut  yang nampak dan rambut tak tampak, keramas, dan banyak sunnah lainnya. Bahkan, perjalanan ke masjid pun diatur, yakni sunnah berjalan kaki, kalem, tidak grusa-grusu. Tinggalkan Ninja atau RX King Anda di rumah. Gunakan kaki untuk melangkah.

 Langkah kaki menuju masjid akan dihitung dan diganjar dengan pahala. Datang lebih pagi, begitu juga, ada bonusnya. Bonus-bonus ini pun berperingkat, dari senilai telur hingga unta, kira-kira begitulah gambaran ganjarannya. Kok bisa? Lah, manusia itu kan sukanya pamrih, suka hitung-hitungan. Makanya, mereka umumnya harus diiming-imingi poin, angka, dan kelipatan agar rajin beribadah (yang kelas sufi jelaslah sudah tidak repot mikir urusan begini). Dan puncak tabiat kita, manusia, adalah rakus dan kemaruk. Apa-apa diitung secara bisnis. Secara fitrah pun manusia akan selalu ingin mendapatkan yang lebih. Hanya orang yang dapat menahan dirilah yang dapat menjadi perkecualian, seperti dapat melepaskan sejenak obrolan bisnis saat berada di teras masjid.

Saat memasuki pintu masjid untuk salat, ada 70 malaikat melakukan cekpoin, semacam setoran sedikjari bagi pegawai, cuma yang ini tidak kita lihat secara kasat. Namun, manakala khatib sudah berdiri di atas mimbar, malaikat yang berdiri di pintu-pintu masjid itu pun melipat kertas, menyimpan catatan, sehingga kelompok yang datang terlambat sudah tidak kebagian bonus dan poin lagi.
Itulah beberapa aturan yang ditetapkan untuk diketahui dan dilaksanakan saat kita hendak pergi jumatan. Sudah? Cuman segitu? Belum, masih ada lagi.

Sehabis mengucapkan ‘salam’ setelah salat, masih ada cekpoin-cekpoin tambahan untuk menambah berat pundi-pundi amal. Sebab itulah, jangan terburu-buru mencelat usai salat meskipun ada anjuran “fantasyiru” (maksudnya “menyebar”) di dalam Surah Al-Jumuah, sebagaimana ada juga “fas ‘aw” (maksudnya “bersegera”)  di ayat sebelumnya. Yang dimaksud “menyebar” di muka bumi untuk mencari keutamaan Allah itu dilakukan setelah Jumatan lebih dulu, dan bersegera sebelum salat itu artinya meninggalkan segala tetek-bengek urusan perniagaan, jaga toko, jualan siomay, dll, sebelum khatib naik ke atas mimbar.

Konon, Nabi pernah dicuekin jamaah di suatu waktu. Padakala itu, mereka berhamburan karena ada pedagang minyak dari Syam (Damaskus) padahal Nabi sudah ada di atas mimbar. Jamaah kemurungsung, meninggalkan beliau. Di masa sekarang, gelisahnya jamaah malah ada di depan dan di belakang: berangkat jumatan sudah masuk masa injury time, pulangnya duluan, mendahului yang lain.

Kalau dipikir-pikir, seberapa lama, sih, kita akan kehilangan waktu untuk menyelesaikan zikiran demi kesempurnaan salat jamaah? Kalau nambah salat sunnah, paling-paling nambah lagi 2-3 menit. Lak sebentar, tho, jika dibandingkan dengan waktu kita yang luangkan seharian? Saya memang tidak pernah menghitung berapa menit jatah duduk setelah salat untuk menuntaskan pembacaan surah-surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing 7 kali, serta menjawab ‘amin, amin, amin’ saat imam mengakhiri rangkaian ibadah pekan ini dengan doa. Tapi, saya yakin itu waktu yang sebentar saja jika diambil dari 24 jam waktu kita, apalagi jika ditinjau dari 7 hari dalam sepekan. Santai sajalah, toh sesudahnya kita masih punya banyak waktu untuk kerja lagi, ngantor lagi, ngopi lagi, wasap-an lagi, Facebook-an lagi.

Demikianlah rentetan kegiatan yang kita luangkan sesaat dalam sepekan untuk jumatan, untuk momen yang dianggap suci itu. Akan tetapi, namanya juga manusia, adakalanya, atau bahkan seringkali, dalam suasana seperti itu, mudah kita temukan banyak pula sampahnya. Lagi-lagi, dengan sangat amat terpaksa, hal ini harus dimaklumi karena manusia itu memang makhluk sepenuh ironi. Manusia itu ‘kan ciptaan Allah yang purna, paling sempurna, namun dia diberi unsur lupa supaya ‘manu’ itu ‘nisya’: mengandung lupa, “na-si-ya”.

Kita tahu, di sekolah, kenaikan kelas dan laporan akhir itu diberikan di akhir tahun pelajaran. Dalam hidup, hasil kerja kita di dunia diberikan di Hari Perhitungan. Nah, selama kegiatan berlangsung, kita tidak diberi tahu soal lulus atau tidak, namun jelas sudah ada indikator yang dapat kita tebak (nah, kalau tidak masuk sekolah, mau tebak-tebakan indikatornya siapa?).

Untuk mengetahui indikator-indikator salat jumat, misalnya, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan:

Anda berangkat jalan kaki atau naik sepeda motor? Selama di jalan, Anda menggunakan hak sendiri atau menyerobot hak pengguna jalan lain? Berapa kali Anda membunyikan klakson tin-tin-tin selama perjalanan tadi yang  semua itu serupa membuang polusi suara ke sembarang telinga hanya karena ia gratisan? Apakah Anda mematikan ponsel sebelum salat karena takut mengganggu kekhusyukan; atau hanya dibikin getar-getar di saku celana atau di gulungan sarung, sehingga saat Anda sedang khusyuk-khusyukya, Anda sempat pula menebak-nebak, “nih ada wasap dari siapa, ya?”? Setelah tiba di masjid, Anda ngobrol saat khobtah Jumat atau tidak ngobrol tapi umek-umek ponsel? Setelah imam bertakbir dan membaca Al Fatihah, Anda sudah ‘amin’ duluan sebelum imam sempurna menyelesaikan bacaan Al-Fatihah?

Itu semua hanya contoh pertanyaan yang mungkin dapat kita ajukan untuk mengetahui indikatornya. Diterima atau tidak, itu bukan urusan kita.

Karena pergi jumatan itu senantiasa berurusan dengan perkara yang bersih, maka jangan pula ia dinodai oleh ketidakbecusan yang kadangkala ia terjadi dan dianggap biasa hanya karena saking banyaknya orang yang melakukannya. Misalnya, hanya karena ingin buru-buru tiba di masjid terus Anda main terobos saja rintangan di depan, merugikan banyak orang. Yang haq dan batil jangan dibikin salad karena alasan mau salat. Hanya karena ingin dapat tempat terdepan (padahal Anda berangkat dari rumah belakangan), terus main sembarang injak-injak sandal orang lain, lebih parah lagi bawa Swallow pulangnya bawa Homyped. Jumatan macam apa yang begituan?

Setiap langkah yang mengarah ke masjid akan dihitung sebagai pahala. Namun kalau Anda terpaksa naik motor karena trotoarnya sudah tidak aman sebab dihabisi oleh pedagang kaki lima, maka ini bukan urusan saya. Tanyakan sama Dishub atau bagian yang mengurus tata kota. Lantas, setelah tiba di masjid dan imamnya bikin gaduh lewat khotbah-khotbahnya? Lagi-lagi ini bukan urusan saya. Tanyakan sama takmir masjid, mengapa mereka mendata imam yang kekurangan forum sehingga di Jumatan pun mereka melampiaskan

(M. Faizi)
pernah tayang di Interidea, november 2017

21 Desember 2017

Dualisme "Rasa Memiliki" dan Persoalannya

Ada dua sisi "rasa memiliki": rendah dan tinggi. Adapun posisi tengahnya disebut tak punya rasa, tak peduli. Rendahnya rasa memiliki masyarakat kita umumnya tampak jika ia berkaitan dengan fasilitas publik. Contoh: lampu jalan dibiarkan terus menyala hingga siang hari padahal saklarnya nempel di tiang yang berada di tempat lalu lalang orang (belakangan sudah ada yang diotomatisasi dengan sensor cahaya). Meskipun mendapatkan manfaat dari lampu itu "seolah-olah secara gratis", masyarakat tidak punya rasa eman dan rasa memiliki karena menganggap hal itu "urusan pemerintah". Mereka hanya memiliki kebutuhan terhadap cahayanya di malam hari, sedangkan di pagi dan siangnya mereka lebih membutuhkan gratisan nasi pecel atau soto untuk sarapan.
Di sisi lainnya, "rasa memiliki" masyarakat bisa naik mendadak (seperti pengidap darah tinggi yang habis makan gulai kambing) apabila ada fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan justru untuk kepentingan pribadi, semisal tiang lampu penerangan jalan tersebut ambruk mendadak. Biasanya, muncullah beberapa orang secara tiba-tiba, seolah-olah mereka itu keluar dari dalam tanah, lantas bergotong-royong mengangkat tiang tersebut dan menyelamatkan lampu LED-nya. Mengangkatnya tentu bukan untuk diberdirikan lagi, melainkan untuk diangkut ke rosokan, ditimbang, dijual kiloan. Adapun lampunya diselamatkan dari rebutan tangan penjarah, diamankan sendiri di rumah.
Kasus seperti ini mirip dengan nasib pot-pot bunga nan imut yang diletakkan di atas separator jalan kota yang kurang terurus. Yang dibayar untuk mengurusnya mungkin terlalu sibuk mengurus "bunga-bunga lainnya yang mekar di hatinya" sehingga tidak sempat mengurus bunga sungguhan. Akhirnya, "rasa memiliki"-nya diambil alih oleh seseorang yang melintas di malam hari, memindah beberapa pot tersebut ke halaman rumahnya.
Rasa memiliki (sense of belonging) bukanlah masalah penting di negara yang ekonominya mapan dan keamanannya stabil. Di kita, ini masih gawat sebagai persoalan. Lalu, siapakah yang paling layak menyelesaikan masalah ini? Kita, bersama, meskipun ia nyatanya adalah pekerjaan rumah bagi motivator dan dai untuk membangkitkan kesadaran kolektif tentang pentingnya rasa memiliki. Boleh juga dijadikan agenda Badan Bahasa untuk membahas fungsi ketaksaan makna dalam kata maupun frase serta apa saja dampaknya bagi pemahaman dan kesalahpahaman masyarakat.
Yang jelas, walaupun Perum Pegadaian bisa membereskan segala masalah tanpa masalah, tapi justru akan jadi masalah kalau sampai ikut-ikutan ngurus masalah ini, akibat rasa memiliki yang salah. Meskipun tampak sepele, tapi serius bahaya jika sesuatu diurus bukan oleh ahlinya, seperti dakwah diurus oleh penggiat dunia hiburan dan fatwa agama dipasrahkan kepada orang yang justru baru mempelajarinya.

22 November 2017

"Ikut Sampai Depan!"

Sejak dulu, saya sering nunut orang yang sedang bersepeda motor sendirian. Ada yang mau, ada yang menolak. Kalau mau tentu senang, kalau ditolak, ya, harus sabar, tidak perlu baper. Ingat, kan, sama setiap ending film televisi Hulk? Lakonnya pasti selalu ditolak setiap kali mencegat mobil tumpangan.

Semasa kuliah, dulu, saya sering bawa ransel besar. Salah satu isinya adalah helm (helm dulu itu kecil, kayak helm proyek, enggak seperti helm SNI yang gede seperti zaman sekarang). Malah kadang enggak ada buku di ransel itu. Kalau dapat rezeki tumpangan ke jalan besar, saya akan segera memasangnya. Ah, naik sepeda motor itu ternyata tidak perlu beli motor. Modal helm dan sedikit pede ternyata juga bisa.

Terakhir saya lakukan nunut orang itu di Kamal, tahun lalu. Kata kuncinya adalah “ikut, Mas/Pak, sampai depan!”. Rupanya, frase “sampai depan” ini jauh lebih efektif daripada satu kata “ikut!” saja. Frase “sampai depan” menandakan kita hanya mau nunut tapi tidak jauh, tidak sampai melintasi hutan-hutan yang mungkin akan membuat seseorang itu berpikiran bahwa kita ini bukan orang baik-baik.

Tanggal 30 Oktober lalu, kejadian seperti itu saya alami lagi. Saat itu, kami terjebak antrian panjang di Blega karena perbaikan Jembatan Sempar yang belum kelar. Antriannya sampai ke SPBU. Saya langsung turun dan melihat-lihat. Mobil bergerak pelan, tapi masih lebih cepat langkah saya. Saya pesan kepada Aploh, sepupu yang menjadi teman duduk saya di jok depan mikrobis ELF yang kami sewa, "Ploh, Nanti aku naik dari jembatan."

Perbaikan jembatan secara bersamaan di beberapa titik jalur selatan Madura (dan hanya satu titik di jalur utara) membuat jarak dari rumah saya di Sumenep seakan semakin jauh ke Surabaya. Malam itu, kami pergi secara rombongan  menuju Bandara Juanda. Ada 65 orang semuanya, diangkut dengan bis ¾ (medium), 1 Isuzu ELF panjang, dan beberapa mobil. Penerbangan pukul 6 pagi. Kata kunci dari Hassan selaku kordinator: harus subuhan di masjid bandara.

Sembari melihat arus yang tersendat, saya pindah ke sisi utara, mengambil kamera, dan mulai mengintai mobil-mobil yang akan menyerobot dari arah timur. Saya ingin tahu teknik melanggar ala mereka serta bagaimana cara mereka bermanis muka jika nanti kres dengan mobil dari arah depan, dan bagaimana pula trik dan tips ngeles dengan cara masuk kembali ke barisan atau menyingkir ke bahu jalan. Itu inti mengapa saya turun dari kabin ELF.

Tak terasa, saya melangkah lumayan jauh, hingga di PLN Blega. Arus masih tertahan. Lanjut lagi, saya melangkah sampai persis di jembatan. Kemudian, dengan santainya, saya duduk di gardu, bersama beberapa orang yang tampaknya memang haus hiburan, yaitu orang-orang yang menikmati kemacetan sebagai tontonan.

Ada yang bergerak-gerak. Saat merogoh tas, eh, ada panggilan, dan sudah beberapa kali. Ternyata, suara panggilan tidak terdengar dan getar vibrator HP tidak terasa. Agak berisik mungkin sebabnya.

Saat saya telepon balik, ternyata mobil rombongan sudah ada di Indomaret, jauh agak ke selatan, sudah mendekati jembatan yang dekat pasar.

"Mana?"
“Masih di jembatan.”
“Wah, kami menunggu dari tadi, hampir saja kami tinggal.” [1]
“Oh, tunggu...”

Saya agak panik. Kalau jalan kaki, ya, lumayan jauh dan pasti banyak mengulur waktu, kalau ikut angkutan, pasti enggak ada karena kala itu tengah malam, kalau cari ojek, enggak rasional, ojeknya belum tentu ada dan belum tentu mau karena jarakya terlalu dekat.

Kebetulan, ada seorang bapak-bapak melintas dengan motor Mio. Kebesaran tubuhnya membuat Mio itu jadi kayak sepeda anak balita roda tiga.

"Pak, ikut sampe depan!"

Berbarengan dengan saat ia menoleh, saya langsung duduk di sadelnya. Susah juga kalau harus nunggu jawaban dan neko-neko. Saya kira, ungkapan “sampe depan” itu sudah cukup ampuh untuk membuatnya luluh, menerima saya sebagai pemboncengnya. Bapak itu jelas tidak tahu, di manakah yang dimaksud 'depan’ itu, tapi terbukti dia mau.

Intinya begini. Adapun tips atau cara menghentikan sepeda motor yang melintas, dapat digunakan;

1. Menggubit (melambaikan tangan seperti memanggil-manggil orang di kejauhan)
2. Mengangkat tangan kanan dengan jari mengembang
3. Mengangkat tangan dengan menunjukkan jempol

Pokoknya, jangan melakukan penyetopan dengan cara menghadang di tengah jalan dengan kedua kaki mengangkan karena itu cara alay. Atau, lebih-lebih, jangan lakukan penghadangan dengan senapan atau senjata tajam karena nanti Anda akan diduga perampok.

Setelah mereka berhenti, segera ucapkan rapalan di atas, "Pak/Mas, mau ikut/nunut sampai depan!". Saya semakin yakin, bahwa frase “ikut sampai depan” itu memang efektif sebagai kata kunci untuk menumpang, meskipun ambigu. Saya sudah melakukannya beberapa kali. Kalau kita menyebut nama tempat secara spesifik, tumpangan mungkin ogah dan boleh jadi masih akan ada debat di antara kita. Jadi, gunakan kata “depan sana” atau “sampe depan saja” kalau Anda mau cari tumpangan gratisan di saat terdesak. Insya Allah, orang asing pun pasti mau, asal saja tampang Anda (yang cowok) tidak mencurigakan laksana perampok dan orang yang mau Anda ikuti itu adalah seorang gadis remaja.




[1] Ancaman “hampir saja mau ditinggal” ini serius akarena kami terancam hangus tiket untuk 65 penumpang Citilink di pemberangkatan pukul 06.00 dari Juanda – Balikpapan 

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (4) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog