Dilarang Sakit di Hari Jumat

Senin, Mei 15, 2017


Saya pernah membesuk seorang pasien di rumah sakit. Ia masuk Jumat sore dan baru dikunjungi dokter di hari senin siangnya. Saya membayangkan, ngapain saja dia selama kurang lebih 70 jam di sana? Saat itulah benar terasa: betapa menunggu itu benar-benar membosankan. 

Orang sakit sungguh tidak menginginkan apa pun selain kesembuhan. Orang sakit tidak suka buah naga dan klengkeng atau roti. Kalau kamu bawa itu sebagai buah tangan saat menjenguk, yang memakannya pastilah si penjaga, bukan si pasien. Tapi, si penjaga juga tidak nikmat-nikmat amat saat menyantapnya karena ia pun punya cita-cita yang sama: membawa pulang pasien dari rumah sakit karena hal itu jauh lebih nikmat daripada makan buah dan ngemil penganan apa pun.

Rumah sakit begitu senyap. Ini mungkin peran kerja psikologis meskipun sebetulnya rumah sakit tidaklah senyap. Lihatlah, orang-orang berseliweran. Muka mereka tampak serius, tegang. Jalannya bergegas, mengurus diri sendiri. Itulah satu hal yang membuat rumah sakit tetap ‘menakutkan’ meskipun di pintu masuknya kita disambut dengan koridor penuh bunga dan taman yang indah. Lobi UGD yang berpendingan dan bersofa tebal tetaplah tidak bisa membuat kita betah demi hanya duduk-duduk santai di sana.

Pengalaman di Rumah Sakit

Saya pernah menjaga pasien di Rumkital/RSAL pada tahun 2005 dan di RS Dharmo di tahun berikutnya (kedua rumah sakit ini terletak di Surabaya). Yang heroik dari penjagaan ini adalah karena ia berlangsung pada saat hariraya. Pengalaman lainnya: saya pun pernah menginap satu malam di rumah sakit, sebagai pasien. Saya menjalani operasi ‘bisul’ di lengan kanan. Kata dokter bedah yang bernama Husnul Ghoib, bisul itu bukan sembarang bisul, melainkan “benjolan masa lalu”. Istilah kerennya adalah—jika saya tak salah dengar—“traumatic kist” (keluarga besar ‘kista’ mungkin) atau mungkin yang disebut dengan kista-tulang-traumatik.

Balik lagi ke omongan semula…

Masuk rumah sakit, intinya, sangatlah bikin galau, lebih-lebih jika hari masuk pasien adalah hari Jumat. Jika “masuk Jumat sore, pulang Senin siang” itu disebut “liburan dan nginap di hotel”, maka kalau Anda di rumah sakit, definisinya agak beda sedikit: “masuk Jumat sore, dikunjungi dokter Senin siang”. Demikianlah pandangan saya berdasarkan hasil curhatan orang-orang yang pernah saya besuk.  Saya sendiri tidak pernah mengalaminya sendiri, dan memang tak ingin. Mereka selalu bilang, mereka hanya bertemu dengan perawat dan dokter jaga. Entahlah kalau di rumah sakit besar. 

Mestinya, aktivitas di rumah sakit itu harus sama: buka terus selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun, tidak ada acara libur-liburan sebab sakit datang tak kenal waktu. Saya berharap, ada gubernur (apalagi presiden) yang bikin peraturan: “Tidak ada libur(an) di rumah sakit. Kalau mau libur(an) pergilah ke pantai atau ke gunung.” Soal bagaimana mengatur jadwal dan teknis lainnya, ya, jangan bebani saya untuk memikirnya. Biar yang ahli saja yang melakukan dan memetakan persoalan lanjutan karena mereka akan dibayar untuk itu. 

Pada suatu saat, saya pernah masuk (maksudnya melintasi saja, bukan tinggal)  rumah sakit Mount Elizabeth. Rekan saya bercerita begini.

“Ada kawanku yang nginap di sini selama 40 hari." 
“Wah, habis berapa, Bang?”
“Kayaknya sekitar 4M.”
“Sekarang?”
“Dia meninggal di hari ke 41.”
"Oh, kasihan."

Kami terus melangkah dan keluar, menuju Orchard. Sembari berjalan santai, kawan saya ini ngomong, “Ada, lho, pejabat Indonesia yang kalau cek darah saja dia pergi ke sini. Aku pernah memergokinya, kok.”

Si kawan menyebutkan satu nama. Ah, ruapanya nama itu, nama kesohor seorang koruptor. Dugaan saya, mengapa si koruptor itu cek darah di sini? Mungkin karena dia tidak perlu pulang hari Senin andai saja dia masuk hari Jumat. Menghabiskan uang dengan cara kelayapan ke Pulau Sentosa dan mal-mal Singapura tentu lebih menyenangkan daripada menghabiskan dolar hanya untuk berbaring menunggu dokter demi tensi dan cek darahnya. Begitu mungkin pikirnya.

Bang Muk, si kawan saya itu, bicara lagi. Hanya saja, kali ini, kata-katanya tertelan deru mesin kendaraan sehingga saya tidak dapat menyimaknya, tapi saya masih dapat menangkap maksudnya, tentu saja dengan perkiraan saja: "bis malam saja jalan terus setiap hari, meskipun sopirnya kadang berbeda-beda, gantian. Masa aktivitas rumah sakit kalah sama bis antarkota?"


Labels: ,




Di Pasar Prenduan

Selasa, Mei 09, 2017


Pada suatu hari Rabu, saya pergi ke Pasar Prenduan. Pasar ini merupakan pasar desa di kecamatan Pragaan. Sebuah pemandangan unik saya saksikan dengan kepala sendiri. Pagi yang mulai panas itu jadi menyenangkan sekali.

Tampak seseorang yang menggiring anak kambing di sisi selatan jalan dan seorang lain ada orang yang menawarnya.

“Eyocola berempa?” (mau dilepas berapa [harga kambing itu])?
“Nemseket.” (650 ribu rupiah)
“Ta’ ekenning lemaratos?” (Enggak bisa kalau dilepas dengan harga 500 ribu?)
“Engko’ keng pas ta’ eparoko’a?” (Lalu, saya lantas enggak mau dikasih uang jajan buat sekadar beli rokok?). 

Pertanyaan retoris di atas ini adalah ungkapan populer masyarakat Madura. Meskipun bentuknya pertanyaan, tapi yang dimaksudkannya adalah bahwa ia keberatan dengan harga tersebut karena itu artinya sama dengan uang modal. Kalau dilepas dengan harga segitu (500 ribu), bahkan ia tidak akan dapat keuntungan sama sekali, meskipun hanya sekadar untung buat beli rokok). Ya, semacam basa-basi saja, sih.

“Yeh, lema’ seket lah.” (Ya udah, 550 ribu dah…)

Se penjual kambing kini melangkah tegap ke arah depan, tidak menoleh lagi seperti sebelumnya. Maklum, dari tadi, tawar-menawar ini terjadi di dua tempat yang bersisian, dipisahkan oleh jalan raya: Yang menggiring kambing berjalan di selatan jalan, yang menawarnya berada di utara jalan. Mereka berdua sama-sama berjalan ke arah arat, menuju ke pasar. Ya, mereka melakukan tawar-menawar sembari berjalan.

* * *

Betapa asyiknya mereka berdua, pikir saya.  Mereka begitu ceplas-ceplos melakukan tawar-menawar barang dagangan dan hal itu terajadi di kedua sisi jalan yang berbeda. Bagi bukan warga setempat, terutama mereka yang tinggal di Jawa dan sama sekali tidak paham Bahasa Madura, pemandangan ini mungkin tampak seperti dua orang yang sedang bertengkar karena nada suaranya begitu tinggi. Maklum, suara mereka harus lantang agar mampu mengalahkan deru kendaraan bermotor yang memisahkan mereka berdua.

Bagi orang yang terbiasa masuk ke dalam toko waralaba dan bermodel swalayan itu, saya yakin, akan kaget melihat pemandangan seperti ini. Biasanya, mereka disambut sapa pelayan, senyum kasir. Kata-kata yang ramah dan lembut sama sekali tidak ada di tempat ini. Orang tawar-menawar saja kayak orang bertengkar. Tapi, ya, mau apa lagi? Mereka sudah terbiasa begini dalam melakukan transaksi dan semua itu berlangsung asyik-asyik saja. Saya melihatnya begitu.

Makanya, saya suka belanja ke pasar dan toko kelontongan itu karena masih ada basa-basi, ada tawar-menawar dan ada pula obrolan tidak penting yang kadang tidak berhubungan langsung dengan barang dagangan. Semua itu tidak akan terjadi di toko yang semua harganya sudah dipatok dan tidak dapat ditawar lagi. Bahkan, ke toko seperti ini, kita dapat melakukan transaksi dengan tanpa bicara sama sekali, sama sekali, namun itu tidak mungkin terjadi di pasar, di toko kelontong.

Duh, asyiknya belanja di toko tetangga dan pasar yang sayangnya kini sudah mulai tidak begitu diminati lagi.



Labels: , ,




Fikih Jalan Raya

Rabu, April 05, 2017


“Samsuri itu jalan pelan-pelan malah nabrak mobil. Joko ngebut melulu, bahkan kadang sambil ugal-galan, malah tidak tidak pernah nabrak. Ternyata, jalan pelan lebih sering celaka”. 

Mengapa Polantas dan orangtua kita melarang ugal-ugalan? (Catat! Ngebut tidak sama dengan ugal-ugalan [ngebut ≠ ugal-ugalan]). Berdasarkan penelitian, pengalaman, bahkan kenyataan di lapangan, perilaku ugal-ugalan itu cenderung lebih besar mengandung resiko celaka dan mencelakai daripada kalem-kaleman. Ugalan-ugalan tergolong tindakan “tahawwur” (ada pembahasan soal ini di dalam kitab Idzatun Nasyiin) yang kalau dilidahkan oleh orang Indonesia terdengar seperti “ngawur”. Ya, ngawur itu, gampangnya, adalah melakukan tindakan tanpa pertimbangan. Maka dari itu, apabila ada orang yang berpendapat seperti pada kalimat pembuka di atas, dipastikan ia juga ngawur saat membuat pernyataan: bahwa perkecualian (kasus Samsuri dan Joko) dapat dijadikan pijakan umum.

* * *

Menjalankan kendaraan bermotor, dengan jenis apa pun, sesungguhnya penuh resiko. Kita tetap melakoninya karena dua hal: tuntutan atau hobi. Boleh jadi, ada juga yang memiliki syarat kedua-duanya: tuntutan sekaligus hobi. Mestinya, kecelakaan lalu lintas di jalan raya akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan transportasi laut dan udara. Nyatanya, tingkat kecelakaan tertinggi—konon—terjadi di atas bentangan aspal. Kalau dipikir, di jalan raya kita lebih banyak punya kesempatan “mengelak dari celaka” dibandingkan dengan di laut dan di udara. Bayangkan, jika badai datang lalu membalikkan lambung kapal atau turbin mendadak mati di ketinggian jelajah tertinggi, dapatkah kita berjudi dengan ajal? Secara sederhana, logikanya begitu.

Hampir setiap hari, saya mendengar berita kecelakaan lalu lintas (laka lantas), bahkan terkadang menyaksikannya secara langsung di tengah perjalanan ketika bepergian. Peristiwa-peristiwa ini membuat miris karena seolah-olah kecelakaan lalu lintas itu merupakan hal wajar dan biasa saja karena terlalu sering terjadi, sehingga lama-lama ia membuat orang jadi kebal dan kebas perasaannya: tidak kaget bahkan cuek manakala mendengar berita tabrakan.

Nyaris setiap hari, jika Anda amati, mudah Anda jumpai pemandangan “mendekati kecelakaan” seperti ini: anak kecil yang menjalankan sepeda motor di jalan raya seolah aspal yang dilintasinya seempuk spons; seorang tua renta yang menyetir sepeda motor dalam keadaan limbung bagai dewa tuak; lampu sein yang terus berkedip-kedip mirip lampu disko padahal sepeda motornya berjalan lurus tanpa belok sama sekali; mobil angkutan penumpang yang berhenti atau menyalip di tikungan seolah kendaraan yang datang dari lawan arah semacam tebak-tebakan belaka; mobil yang parkir di atas jalan beraspal tanpa lampu hazard seolah sedang parkir di dalam garasi rumahnya sendiri; dll. Jika semua itu tidak menyebabkan laka lantas secara langsung, maka modal penyebab kecelakaan jelas-jelas sudah dimulai dari sana.

Andai saja persoalan ini dibawa ke ranah hukum, perilaku manusia di jalan raya itu ada pula fikihnya sebagaimana laku ‘muamalah’ lainnya. Artinya, tugas dan kewajiban kita (ketika menjadi pengemudi) juga ada status dan jenjang hukumnya: “fardu ain” dan “fardu kifayah”, misalnya. Kita tahu, Kepolisian memberikan izin kepemilikin SIM hanya kepada anak yang telah berusia 16/17 tahun. Mengapa angka 16/17? Barangkali karena usia ini dianggap sebagai pintu masuk ke masa dewasa. Secara psikologis, di usia itu, seseorang akan dianggap lebih mampu mengendalikan fisiknya, emosinya, dan juga lebih terbuka wawasannya. Maka dari itu, ketika seorang pengemudi sudah dianggap akil balig, maka tentu ada kaidah fikih yang akan mengaturnya. Contoh: “jika kita akan bepergian dan tidak boleh tidak harus menjalankan kendaraan bermotor, maka segala syarat demi sempurnanya pelaksanakan tugas itu juga menjadi wajib”. Oleh karenanya, jika kita hendak mengemudikan sepeda motor ke suatu tempat, maka syarat wajibnya adalah: ada sepeda motornya; ada SIM-nya, ada bahan bakarnya, dll.

Dengan mengetahui logika dasar “fikih jalan raya” ini, sepantasnya kita bisa lebih dewasa dalam menyikapi posisi diri dan posisi orang lain di sana. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM), calon pemegang harus melalui uji kecakapan-kecakapan khusus. Begitu pentingnya persyaratan ini sehingga di Jerman, orang yang terlibat laka lantas dan menyebabkan korban meninggal dunia, SIM-nya dicabut dan seumur hidup tidak akan pernah mendapatkannya lagi. Lalu, bagaimana jika dalam kenyataannya kita saksikan banyak orang yang punya SIM tapi sebetulnya dia hanya punya kecakapan dalam menyogok petugasnya?

Memang betul, punya SIM itu tidak wajib. Namun, ia mendadak wajib dimiliki ketika seseorang akan memanfaatkan SIM-nya secara langsung, yakni ketika akan berangkat mengemudi. Makanya, orang ambil SIM di Kepolisian itu biasanya jauh hari karena mewanti-wanti dan persiapan sebelumnya. Hal ini sama statusnya dengan wudu’: wudu itu tidak wajib ketika tidak sedang akan shalat, namun bagi seorang muslim mukallaf, wudu harus diketahui aturan dan rukunnya. Manasik haji tidak wajib diketahui ketika orang tidak akan berangkat haji, namun menjadi wajib dipelajari ketika ia sudah akan berangkat haji. Begitu pula dengan SIM: statusnya ‘sunnah’ dimiliki oleh seorang pengemudi ketika ia akil balig dan berusia 16/17 tahun. Lalu, status hukum berubah menjadi ‘wajib’ ketika ia sudah duduk di belakang kemudi dan siap berangkat.

Kecakapan ini mencakup hal-hal yang sangat prinsip dan harus dimiliki oleh seorang pengemudi demi terpenuhinya hal-hal yang ‘fardu’ (wajib) tadi. Adapun syarat-syaratnya, ada yang bersifat khusus—seperti disebutkan di atas—dan ada pula yang bersifat umum, seperti mengerti kompartemen/elemen kendaraan; paham fungsi-fungsi alat pemberi isyarat kendaraan (seperti lampu, klakson, dll) semisal bahwa klakson itu bukanlah elekton sehingga akan menyebalkan kalau sebentar-sebentar dibunyikan, sebentar-sebentar dipencet; juga paham rambu-rambu lalu lintas, semisal bahwa huruf  “S-coret” itu tanda tidak boleh berhenti, bukan tanda ada orang jualan “es coret”; paham kebiasaan dan perilaku orang di jalan, semisal bahwa selalu saja ada orang yang suka nyelonong di perempatan sehingga kita bisa berhati-hati setiap akan melintasinya, serta memahami kemungkinan-kemungkinan kejadian lain di jalan raya, terutama dalam situasi darurat, dan seterusnya.

Semua hal yang bersifat ‘fardu ain’ harus dijadikan bekal pengetahuan bagi setiap pengemudi. Dengan demikian, setiap pengemudi tidak cukup hanya punya modal bisa nyetarter, bisa mancal, bisa ngerem, tapi tidak paham rambu-rambu. Akan tetapi, akan percuma jika masalahnya adalah: bisa mengemudi, punya SIM, paham tertib lalu lintas, tapi “dari sono”-nya hobi melanggar.

Di samping syarat-syarat khusus, ada pula “syarat-bersyarat”. Syarat-bersyarat ini merupakan nota tambahan. Adapun syarat-syarat bersyarat itu, antara lain, adalah sebagai berikut:
1. Sehat jasmani dan rohani (kalau bawaannya temperamental melulu, mending dorong gerobak sampah saja)
2. Kendaraannya juga dalam keadaan fit (kalau rem blong, dibawa pergi)
3. Mengenal/mampu memperkirakan jalan dan medan yang akan ditempuh (kalau lebar jalan hanya jalan setapak, ya, jangan dilewati mobil)
4. Mengenal/mampu mempertimbangkan cuaca (kalau sekiranya Anda naik motor dan harus melintasi banjir setinggi mesin dan mencapai filter udara, jangan dilawan, sebab Anda tidak sedang mengikuti pertandingan)
5. Bersikap hati-hati sejak awal berangkat.

Sekarang kita tahu—dan mestinya sudah mulai mengubah sudut pandang bahwa—mengemudi yang tampaknya sepele itu ternyata banyak ini-itunya; seolah-olah ia hanya soal gampang, tapi nyatanya ia berbelit-belit urusan. Lalu, ada orang yang berkata, “Bukankah mengemudi itu hanya asal bisa ngegas, ngerem, belok, dan sekitar-sekitar itu saja?”. Jawabannya: tidak! Mengemudi lebih dari itu. Anggapan seperti ini muncul karena kita terbiasa menyederhakan masalah sehingga mengemudi pun menjadi urusan yang sepertinya sangat sepele, padahal tidak. Mengapa urusan mengemudi menjadi sangat penting diperhatikan dan begitu ruwet tata aturannya? Karena medan peruntukannya adalah jalan raya, yakni tempat di mana begitu banyak manusia, ragam budaya, watak dan karakter manusia yang berseliweran di atasnya. Sebab itulah, tidak boleh tidak, seorang pengemudi itu mestinya cerdas dan paham segala aturan lalu lintas sebab ia akan menyangkut urusan banyak orang dan banyak hal. Artinya, kalau sekali ia salah dan celaka, kemungkinan besar akan mencelakakan dirinya, bahkan mencelakakan orang lain yang boleh jadi sudah paham dan malah tidak bersalah sama sekali.

Sebagaimana hukum fikih yang menjadi pasangan ‘fardu ain’, maka ada pula ‘fardu kifayah’-nya. Seorang pengemudi itu juga—sebaiknya—tahu atau setidaknya memiliki kecakapan dasar pengetahuan per-pengemudi-an, seperti mengenal dan memahami item-item sekunder kendaraan yang dikemudikannya: isyarat segitiga, dongkrak, lampu hazard, spion tengah (untuk mobil); lampu sore, lampu dekat/dim, lampu jauh (untuk mobil dan sepeda motor); rantai atau belt (khusus sepeda motor), dll. Seorang pengemudi juga diutamakan untuk mengetahui pengalaman dan pengetahuan khusus, seperti tipe mesin, kerja mesin, kelas jalan dan peruntukannya, tonase, bikin betul kerusakan ringan, dll. Akan tetapi, andaipun dia tidak tahu pengetahuan tingkat lanjutan ini, itu juga tidak masalah selama ia kenal dan tahu di mana bengkelnya. Mengapa hal-hal tersebut sebaiknya juga harus diketahui? Karena motor dan mobil itu fana sebab ia buatan manusia. Mobil dan motor punya sifat “mobiliawi” sehingga sangat mungkin mengalami pecah ban meskipun ia baru dibeli bahkan baru dipasang; sebagaimana manusia yang mungkin demam dan batuk karena pancaroba dan itu disebut “manusiawi”.

Itulah beberapa hal yang harus diketahui oleh kita saat berada di jalan raya, terutama sebagai pengemudi. Bahkan, sebagai rakyat biasa pun, termasuk sebagai pejalan kaki, kita juga harus punya pengetahuan terhadap aturan dasar tersebut agar tidak melakukan tindakan ceroboh, misalnya menyeberang sembarangan, berdiri atau bahkan nongkrong di tepi jalan beraspal, bermain bola di jalanan karena lapangannya sudah dibeli investor dan dijadikan mall, dll.

Masih ada lagi? Masih, tapi sudahlah, tidak perlu ditulis semua. Biarlah sebagiannya kita pelajari dan kita renungkan sambil lalu agar otak punya kerja tambahan. Masih ada banyak tip untuk pengemudi, seperti mengurangi konsumsi karbohidrat agar tidak ngantuk saat mengemudi atau istirahat (merenggangkan otot dan syaraf) per 3 jam demi memulihkan konsentrasi. Namun, semua ini hanyalah hal-hal tambahan saja, sunnah-sunnah saja diketahui.

Di atas semua itu, jangan lupa berdoalah sebelum berangkat. Berdoa dan berharaplah agar perjalanan kita menjadi berkah, dijauhkan dari pemandangan yang tidak menyenangkan selama di jalan, serta sampai di tempat tujuan dan pulang kembali dalam keadaan selamat. Dan, oh, ya, masih ada pesan terakhir: jangan lupa pula untuk memeriksa rem dan lampu-lampu sebelum berangkat; SIM dan STNKB jangan dilupakan, surat kredit tidak perlu dibawa-bawa. Berhati-hatilah! Tuhan akan mengampuni pelanggaran yang dilakukan oleh hamba-Nya karena lupa, tapi Polantas tidak.

(M. Faizi: admin blog)


Labels:




Tamu yang Membawa Dapur Sendiri

Minggu, Maret 05, 2017


Saya pernah kedatangan tamu yang membawa air sendiri. Saya tidak tersinggung karena saya tahu, air yang dibawanya itu mungkin air istimewa, semacam air suwuk, air obat, air TDS rendah, atau air entah apa. Saya maklumi yang begini ini. Biasanya, orang yang begini tidak perlu disuguhi kopi atau teh.

Ada pula tamu yang bawa gula sendiri. Karena menyuguhkan kopi dan teh merupakan kebiasaan kami, maka ia tentu tetap menerima suguhan itu dengan persyaratan khusus: tidak perlu dikasih gula karena dia bawa gula khusus, seperti gula jagung atau gula khusus pengidap diabetes. Yang begini ini juga harap dimaklumi, enggak usah bikin baper.

Nah, yang umum itu adalah tamu yang bawa rokok sendiri (meskipun ada pula tamu yang cuma modal korek saja; rokok nunut tuan rumah).  Di Madura, memang ada juga tuan rumah yang bukan hanya menyuguhkan minuman dan cemilan, tapi juga sekaligus rokoknya, bahkan andaipun tuan rumah bukanlah seorang perokok (mengapa rokok? Mungkin karena Madura termasuk daerah penghasil tembakau).

Dan tadi malam, adalah pengalaman pertama dalam hidup saya: kedatangan tamu yang bukan saja bawa minuman sendiri, melainkan “bawa dapur sendiri”. Jadinya, sayalah yang disuguhi minuman.  “Entah ada apa di awal Maret ini,” batin saya. Malam sebelumnya, saya juga ketibaan rezeki tamu para terapis, Bapak Tomy Aditama dan kawan-kawan dari Toms Hepi Jogja yang secara kebetulan bertandang ke rumah karena mereka sedang berziarah di Pulau Madura, lalu mampir ke tempat saya. Terus terang, saya baru sekali bertemu beliau. Eh, rupanya beliau ini penganut aturan FIFA: setelah ada laga tandang, ada pula laga kandang.

Oh, balik lagi: ulangi…



Nah, ini adalah pengalaman pertama dalam hidup saya. Tadi malam, tamu saya bukan saja bawa minuman sendiri, melainkan “bawa dapur sendiri”. Jadinya, sayalah yang disuguhi minuman.  Satu per satu, perkakas dapurnya dikeluarkan dan dibawa ke ruang tamu saya: panci, kompor, gelas, sendok, kopi, cemilan, grinder kopi, susu, dan entah apa lagi. Pokoknya, badunan (tempat samping musala—red) yang saya biasa tempati untuk menerima tamu dan juga belajar mengajar itu mendadak serupa dapur tiban.

Tentu saja, saya senang karena tamu ini malah memosisikan diri jadi barista atau petugas kafe.  Saya diminta memilih apa pun yang dikehendaki, termasuk kopi Gayo dan berbagai pemrosesannya, dari V60, vietnamese drip (kopi tetes ala Vietnam), cascara (teh dari daun kopi), dll. Agar tak “kalah”, saya pun mengeluarkan bahan mentahnya, kopi ijo khas Turki (Turk Kahve Has) dan juga Tiryaki Çayi (teh Turki berasa teh rosela) yang dibawa Bernando J Sujibto saat bertandang kemari, dua malam sebelumnya.

Demikianlah, ini bagian pengalaman saya dalam menerima tamu. Bagaimanapun, prinsip saya, menerima tamu adalah sebuah rezeki. Bahkan, jatah rezeki untuk mereka sudah datang 3 hari sebelumnya. Saya yakin itu, saya percaya. Tentu saja, saya tetap menyuguhkan kopi bikinan sendiri secara ala kadarnya meskipun dengan perasaan inferior alias minder. Apa pasal? Soalnya, tamu kali ini punya sederat label terkait kopi: dia adalah Lia Zen, pemilik kafe Jungkir Balik Sidoarjo, konsultan kafe, juga Duta Kopi Indonesia 2016.

Karena hari-hari yang menyenangkan inilah saya punya alasan untuk menulis lagi di blog ini. Walhamdulillah.


Labels: ,




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (22) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog