Fikih Jalan Raya

Rabu, April 05, 2017


“Samsuri itu jalan pelan-pelan malah nabrak mobil. Joko ngebut melulu, bahkan kadang sambil ugal-galan, malah tidak tidak pernah nabrak. Ternyata, jalan pelan lebih sering celaka”. 

Mengapa Polantas dan orangtua kita melarang ugal-ugalan? (Catat! Ngebut tidak sama dengan ugal-ugalan [ngebut ≠ ugal-ugalan]). Berdasarkan penelitian, pengalaman, bahkan kenyataan di lapangan, perilaku ugal-ugalan itu cenderung lebih besar mengandung resiko celaka dan mencelakai daripada kalem-kaleman. Ugalan-ugalan tergolong tindakan “tahawwur” (ada pembahasan soal ini di dalam kitab Idzatun Nasyiin) yang kalau dilidahkan oleh orang Indonesia terdengar seperti “ngawur”. Ya, ngawur itu, gampangnya, adalah melakukan tindakan tanpa pertimbangan. Maka dari itu, apabila ada orang yang berpendapat seperti pada kalimat pembuka di atas, dipastikan ia juga ngawur saat membuat pernyataan: bahwa perkecualian (kasus Samsuri dan Joko) dapat dijadikan pijakan umum.

* * *

Menjalankan kendaraan bermotor, dengan jenis apa pun, sesungguhnya penuh resiko. Kita tetap melakoninya karena dua hal: tuntutan atau hobi. Boleh jadi, ada juga yang memiliki syarat kedua-duanya: tuntutan sekaligus hobi. Mestinya, kecelakaan lalu lintas di jalan raya akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan transportasi laut dan udara. Nyatanya, tingkat kecelakaan tertinggi—konon—terjadi di atas bentangan aspal. Kalau dipikir, di jalan raya kita lebih banyak punya kesempatan “mengelak dari celaka” dibandingkan dengan di laut dan di udara. Bayangkan, jika badai datang lalu membalikkan lambung kapal atau turbin mendadak mati di ketinggian jelajah tertinggi, dapatkah kita berjudi dengan ajal? Secara sederhana, logikanya begitu.

Hampir setiap hari, saya mendengar berita kecelakaan lalu lintas (laka lantas), bahkan terkadang menyaksikannya secara langsung di tengah perjalanan ketika bepergian. Peristiwa-peristiwa ini membuat miris karena seolah-olah kecelakaan lalu lintas itu merupakan hal wajar dan biasa saja karena terlalu sering terjadi, sehingga lama-lama ia membuat orang jadi kebal dan kebas perasaannya: tidak kaget bahkan cuek manakala mendengar berita tabrakan.

Nyaris setiap hari, jika Anda amati, mudah Anda jumpai pemandangan “mendekati kecelakaan” seperti ini: anak kecil yang menjalankan sepeda motor di jalan raya seolah aspal yang dilintasinya seempuk spons; seorang tua renta yang menyetir sepeda motor dalam keadaan limbung bagai dewa tuak; lampu sein yang terus berkedip-kedip mirip lampu disko padahal sepeda motornya berjalan lurus tanpa belok sama sekali; mobil angkutan penumpang yang berhenti atau menyalip di tikungan seolah kendaraan yang datang dari lawan arah semacam tebak-tebakan belaka; mobil yang parkir di atas jalan beraspal tanpa lampu hazard seolah sedang parkir di dalam garasi rumahnya sendiri; dll. Jika semua itu tidak menyebabkan laka lantas secara langsung, maka modal penyebab kecelakaan jelas-jelas sudah dimulai dari sana.

Andai saja persoalan ini dibawa ke ranah hukum, perilaku manusia di jalan raya itu ada pula fikihnya sebagaimana laku ‘muamalah’ lainnya. Artinya, tugas dan kewajiban kita (ketika menjadi pengemudi) juga ada status dan jenjang hukumnya: “fardu ain” dan “fardu kifayah”, misalnya. Kita tahu, Kepolisian memberikan izin kepemilikin SIM hanya kepada anak yang telah berusia 16/17 tahun. Mengapa angka 16/17? Barangkali karena usia ini dianggap sebagai pintu masuk ke masa dewasa. Secara psikologis, di usia itu, seseorang akan dianggap lebih mampu mengendalikan fisiknya, emosinya, dan juga lebih terbuka wawasannya. Maka dari itu, ketika seorang pengemudi sudah dianggap akil balig, maka tentu ada kaidah fikih yang akan mengaturnya. Contoh: “jika kita akan bepergian dan tidak boleh tidak harus menjalankan kendaraan bermotor, maka segala syarat demi sempurnanya pelaksanakan tugas itu juga menjadi wajib”. Oleh karenanya, jika kita hendak mengemudikan sepeda motor ke suatu tempat, maka syarat wajibnya adalah: ada sepeda motornya; ada SIM-nya, ada bahan bakarnya, dll.

Dengan mengetahui logika dasar “fikih jalan raya” ini, sepantasnya kita bisa lebih dewasa dalam menyikapi posisi diri dan posisi orang lain di sana. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM), calon pemegang harus melalui uji kecakapan-kecakapan khusus. Begitu pentingnya persyaratan ini sehingga di Jerman, orang yang terlibat laka lantas dan menyebabkan korban meninggal dunia, SIM-nya dicabut dan seumur hidup tidak akan pernah mendapatkannya lagi. Lalu, bagaimana jika dalam kenyataannya kita saksikan banyak orang yang punya SIM tapi sebetulnya dia hanya punya kecakapan dalam menyogok petugasnya?

Memang betul, punya SIM itu tidak wajib. Namun, ia mendadak wajib dimiliki ketika seseorang akan memanfaatkan SIM-nya secara langsung, yakni ketika akan berangkat mengemudi. Makanya, orang ambil SIM di Kepolisian itu biasanya jauh hari karena mewanti-wanti dan persiapan sebelumnya. Hal ini sama statusnya dengan wudu’: wudu itu tidak wajib ketika tidak sedang akan shalat, namun bagi seorang muslim mukallaf, wudu harus diketahui aturan dan rukunnya. Manasik haji tidak wajib diketahui ketika orang tidak akan berangkat haji, namun menjadi wajib dipelajari ketika ia sudah akan berangkat haji. Begitu pula dengan SIM: statusnya ‘sunnah’ dimiliki oleh seorang pengemudi ketika ia akil balig dan berusia 16/17 tahun. Lalu, status hukum berubah menjadi ‘wajib’ ketika ia sudah duduk di belakang kemudi dan siap berangkat.

Kecakapan ini mencakup hal-hal yang sangat prinsip dan harus dimiliki oleh seorang pengemudi demi terpenuhinya hal-hal yang ‘fardu’ (wajib) tadi. Adapun syarat-syaratnya, ada yang bersifat khusus—seperti disebutkan di atas—dan ada pula yang bersifat umum, seperti mengerti kompartemen/elemen kendaraan; paham fungsi-fungsi alat pemberi isyarat kendaraan (seperti lampu, klakson, dll) semisal bahwa klakson itu bukanlah elekton sehingga akan menyebalkan kalau sebentar-sebentar dibunyikan, sebentar-sebentar dipencet; juga paham rambu-rambu lalu lintas, semisal bahwa huruf  “S-coret” itu tanda tidak boleh berhenti, bukan tanda ada orang jualan “es coret”; paham kebiasaan dan perilaku orang di jalan, semisal bahwa selalu saja ada orang yang suka nyelonong di perempatan sehingga kita bisa berhati-hati setiap akan melintasinya, serta memahami kemungkinan-kemungkinan kejadian lain di jalan raya, terutama dalam situasi darurat, dan seterusnya.

Semua hal yang bersifat ‘fardu ain’ harus dijadikan bekal pengetahuan bagi setiap pengemudi. Dengan demikian, setiap pengemudi tidak cukup hanya punya modal bisa nyetarter, bisa mancal, bisa ngerem, tapi tidak paham rambu-rambu. Akan tetapi, akan percuma jika masalahnya adalah: bisa mengemudi, punya SIM, paham tertib lalu lintas, tapi “dari sono”-nya hobi melanggar.

Di samping syarat-syarat khusus, ada pula “syarat-bersyarat”. Syarat-bersyarat ini merupakan nota tambahan. Adapun syarat-syarat bersyarat itu, antara lain, adalah sebagai berikut:
1. Sehat jasmani dan rohani (kalau bawaannya temperamental melulu, mending dorong gerobak sampah saja)
2. Kendaraannya juga dalam keadaan fit (kalau rem blong, dibawa pergi)
3. Mengenal/mampu memperkirakan jalan dan medan yang akan ditempuh (kalau lebar jalan hanya jalan setapak, ya, jangan dilewati mobil)
4. Mengenal/mampu mempertimbangkan cuaca (kalau sekiranya Anda naik motor dan harus melintasi banjir setinggi mesin dan mencapai filter udara, jangan dilawan, sebab Anda tidak sedang mengikuti pertandingan)
5. Bersikap hati-hati sejak awal berangkat.

Sekarang kita tahu—dan mestinya sudah mulai mengubah sudut pandang bahwa—mengemudi yang tampaknya sepele itu ternyata banyak ini-itunya; seolah-olah ia hanya soal gampang, tapi nyatanya ia berbelit-belit urusan. Lalu, ada orang yang berkata, “Bukankah mengemudi itu hanya asal bisa ngegas, ngerem, belok, dan sekitar-sekitar itu saja?”. Jawabannya: tidak! Mengemudi lebih dari itu. Anggapan seperti ini muncul karena kita terbiasa menyederhakan masalah sehingga mengemudi pun menjadi urusan yang sepertinya sangat sepele, padahal tidak. Mengapa urusan mengemudi menjadi sangat penting diperhatikan dan begitu ruwet tata aturannya? Karena medan peruntukannya adalah jalan raya, yakni tempat di mana begitu banyak manusia, ragam budaya, watak dan karakter manusia yang berseliweran di atasnya. Sebab itulah, tidak boleh tidak, seorang pengemudi itu mestinya cerdas dan paham segala aturan lalu lintas sebab ia akan menyangkut urusan banyak orang dan banyak hal. Artinya, kalau sekali ia salah dan celaka, kemungkinan besar akan mencelakakan dirinya, bahkan mencelakakan orang lain yang boleh jadi sudah paham dan malah tidak bersalah sama sekali.

Sebagaimana hukum fikih yang menjadi pasangan ‘fardu ain’, maka ada pula ‘fardu kifayah’-nya. Seorang pengemudi itu juga—sebaiknya—tahu atau setidaknya memiliki kecakapan dasar pengetahuan per-pengemudi-an, seperti mengenal dan memahami item-item sekunder kendaraan yang dikemudikannya: isyarat segitiga, dongkrak, lampu hazard, spion tengah (untuk mobil); lampu sore, lampu dekat/dim, lampu jauh (untuk mobil dan sepeda motor); rantai atau belt (khusus sepeda motor), dll. Seorang pengemudi juga diutamakan untuk mengetahui pengalaman dan pengetahuan khusus, seperti tipe mesin, kerja mesin, kelas jalan dan peruntukannya, tonase, bikin betul kerusakan ringan, dll. Akan tetapi, andaipun dia tidak tahu pengetahuan tingkat lanjutan ini, itu juga tidak masalah selama ia kenal dan tahu di mana bengkelnya. Mengapa hal-hal tersebut sebaiknya juga harus diketahui? Karena motor dan mobil itu fana sebab ia buatan manusia. Mobil dan motor punya sifat “mobiliawi” sehingga sangat mungkin mengalami pecah ban meskipun ia baru dibeli bahkan baru dipasang; sebagaimana manusia yang mungkin demam dan batuk karena pancaroba dan itu disebut “manusiawi”.

Itulah beberapa hal yang harus diketahui oleh kita saat berada di jalan raya, terutama sebagai pengemudi. Bahkan, sebagai rakyat biasa pun, termasuk sebagai pejalan kaki, kita juga harus punya pengetahuan terhadap aturan dasar tersebut agar tidak melakukan tindakan ceroboh, misalnya menyeberang sembarangan, berdiri atau bahkan nongkrong di tepi jalan beraspal, bermain bola di jalanan karena lapangannya sudah dibeli investor dan dijadikan mall, dll.

Masih ada lagi? Masih, tapi sudahlah, tidak perlu ditulis semua. Biarlah sebagiannya kita pelajari dan kita renungkan sambil lalu agar otak punya kerja tambahan. Masih ada banyak tip untuk pengemudi, seperti mengurangi konsumsi karbohidrat agar tidak ngantuk saat mengemudi atau istirahat (merenggangkan otot dan syaraf) per 3 jam demi memulihkan konsentrasi. Namun, semua ini hanyalah hal-hal tambahan saja, sunnah-sunnah saja diketahui.

Di atas semua itu, jangan lupa berdoalah sebelum berangkat. Berdoa dan berharaplah agar perjalanan kita menjadi berkah, dijauhkan dari pemandangan yang tidak menyenangkan selama di jalan, serta sampai di tempat tujuan dan pulang kembali dalam keadaan selamat. Dan, oh, ya, masih ada pesan terakhir: jangan lupa pula untuk memeriksa rem dan lampu-lampu sebelum berangkat; SIM dan STNKB jangan dilupakan, surat kredit tidak perlu dibawa-bawa. Berhati-hatilah! Tuhan akan mengampuni pelanggaran yang dilakukan oleh hamba-Nya karena lupa, tapi Polantas tidak.

(M. Faizi: admin blog)


Labels:




Tamu yang Membawa Dapur Sendiri

Minggu, Maret 05, 2017


Saya pernah kedatangan tamu yang membawa air sendiri. Saya tidak tersinggung karena saya tahu, air yang dibawanya itu mungkin air istimewa, semacam air suwuk, air obat, air TDS rendah, atau air entah apa. Saya maklumi yang begini ini. Biasanya, orang yang begini tidak perlu disuguhi kopi atau teh.

Ada pula tamu yang bawa gula sendiri. Karena menyuguhkan kopi dan teh merupakan kebiasaan kami, maka ia tentu tetap menerima suguhan itu dengan persyaratan khusus: tidak perlu dikasih gula karena dia bawa gula khusus, seperti gula jagung atau gula khusus pengidap diabetes. Yang begini ini juga harap dimaklumi, enggak usah bikin baper.

Nah, yang umum itu adalah tamu yang bawa rokok sendiri (meskipun ada pula tamu yang cuma modal korek saja; rokok nunut tuan rumah).  Di Madura, memang ada juga tuan rumah yang bukan hanya menyuguhkan minuman dan cemilan, tapi juga sekaligus rokoknya, bahkan andaipun tuan rumah bukanlah seorang perokok (mengapa rokok? Mungkin karena Madura termasuk daerah penghasil tembakau).

Dan tadi malam, adalah pengalaman pertama dalam hidup saya: kedatangan tamu yang bukan saja bawa minuman sendiri, melainkan “bawa dapur sendiri”. Jadinya, sayalah yang disuguhi minuman.  “Entah ada apa di awal Maret ini,” batin saya. Malam sebelumnya, saya juga ketibaan rezeki tamu para terapis, Bapak Tomy Aditama dan kawan-kawan dari Toms Hepi Jogja yang secara kebetulan bertandang ke rumah karena mereka sedang berziarah di Pulau Madura, lalu mampir ke tempat saya. Terus terang, saya baru sekali bertemu beliau. Eh, rupanya beliau ini penganut aturan FIFA: setelah ada laga tandang, ada pula laga kandang.

Oh, balik lagi: ulangi…



Nah, ini adalah pengalaman pertama dalam hidup saya. Tadi malam, tamu saya bukan saja bawa minuman sendiri, melainkan “bawa dapur sendiri”. Jadinya, sayalah yang disuguhi minuman.  Satu per satu, perkakas dapurnya dikeluarkan dan dibawa ke ruang tamu saya: panci, kompor, gelas, sendok, kopi, cemilan, grinder kopi, susu, dan entah apa lagi. Pokoknya, badunan (tempat samping musala—red) yang saya biasa tempati untuk menerima tamu dan juga belajar mengajar itu mendadak serupa dapur tiban.

Tentu saja, saya senang karena tamu ini malah memosisikan diri jadi barista atau petugas kafe.  Saya diminta memilih apa pun yang dikehendaki, termasuk kopi Gayo dan berbagai pemrosesannya, dari V60, vietnamese drip (kopi tetes ala Vietnam), cascara (teh dari daun kopi), dll. Agar tak “kalah”, saya pun mengeluarkan bahan mentahnya, kopi ijo khas Turki (Turk Kahve Has) dan juga Tiryaki Çayi (teh Turki berasa teh rosela) yang dibawa Bernando J Sujibto saat bertandang kemari, dua malam sebelumnya.

Demikianlah, ini bagian pengalaman saya dalam menerima tamu. Bagaimanapun, prinsip saya, menerima tamu adalah sebuah rezeki. Bahkan, jatah rezeki untuk mereka sudah datang 3 hari sebelumnya. Saya yakin itu, saya percaya. Tentu saja, saya tetap menyuguhkan kopi bikinan sendiri secara ala kadarnya meskipun dengan perasaan inferior alias minder. Apa pasal? Soalnya, tamu kali ini punya sederat label terkait kopi: dia adalah Lia Zen, pemilik kafe Jungkir Balik Sidoarjo, konsultan kafe, juga Duta Kopi Indonesia 2016.

Karena hari-hari yang menyenangkan inilah saya punya alasan untuk menulis lagi di blog ini. Walhamdulillah.


Labels: ,





Pada tahun 2001, adik saya membeli CPU MMX (lalu beli pelengkap: monitor GTC kotak dan cembung ukuran 14”). Harganya 2 juta lebih sedikit. Komputer ini menggunakan prosesor Intel Pentium 200 (kalau tak salah ingat; lebih tinggi sedikit daripada yang pernah saya miliki tahun sebelumnya) yang dibeli pada September 2000 dan hilang di awal tahun 2001 (dicuri seseorang di kamar kos).

IP 233 MMX
Meskipun prosesornya lebih tinggi satu tingkat, tapi kapasitas hardisk milik kami sepertinya sama: 2,1 GB. Karena itu, saya tidak merasa cemburu untuk item ini. Namun, yang bikin ngiler adalah karena pada CPU adik saya tersebut ada modemnya meskipun hanya “numpang” ke soundcard. Ketika pertama dipasang, keruan saja kami bernafsu untuk mencobanya, mengakses internet. Wuih, ternyata kami berhasil mengunjungi sebuah situs minuman dan entah situs apalagi. Sayangnya, karena terlalu lama memuat laman (loading), kami gagalkan. Maklum, kala itu, kecepatan jaringan internetnya hanya 33 Kbps. Butuh beberapa menit hanya untuk menampilkan satu laman sepenuh layar.

Setelah saya punya modem luar D-Link pada kisaran tahun 2004, saya bisa merasakan kecepatan internet Telkom di angka 39-41 Kbps dengan 'telkomet@instan'. Sayangnya, bagi kami, tarifnya masih terlalu mahal, nyaris 10.000 per jam. Apa boleh buat, meskipun hanya berbekal CPU Intel Pentium MMX 233 (hasil pinjam milik sepupu yang tidak dipakai lagi karena sudah punya CPU yang lebih cepat; sedikit lebih tinggi derajatnya daripada yang disebut pertama), saya belajar ngeblog, edit html secara manual, membuat hyperlink ke situs penyimpanan data (spt.photobucket). Saya belajar mengubah perintah kode sambil terus mencoba-coba secara ngawur-ngawur sedikit. Caranya? Mana tampilan yang berubah, sesuai selera, baru disimpan sebagai templat. Meskipun cara ini sangat ‘bego’, saya nikmati saja. Orang menyebutnya trial and error.

IBM Intellistation 450 Mhz
Di tahun 2005, saya bikin blog Sareyang dengan alamat “m-faizi”, lalu blog “kormeddal” pada tahap berikutnya. Betapa menyenangkan kala itu ketika saya sudah punya 'website' sendiri meskipun domaiannya masih numpang ke blogger (Google). Saat teman-teman membeli domain sehingga judul situsnya sudah tidak pakai "blogspot" atau "wordpress" lagi, saya tidak baper, tetap setia untuk tidak mengubah dan berkomitmen untuk tetap pakai yang gratisan saja. Yang penting: posting harus lancar. Enggak apa-apa, saya ambil keuntungannya. Dengan embel-embel "blogspot" seperti itu, saya terus mengakses dan menulis di blog hingga kini di saat teman-teman saya sudah banyak yang berhenti menulis di blog dan tidak sempat membayar domainnya sehingga blog pun tinggal nama saja.

Perkenalkan: CPU yang saya gunakan adalah IBM Intellistation 450 Mhz (refurbished; harga 700.000), menggunakan RAM 265 + 128 (total 384 Mb), VGA 32 Mb. Sudah lemah begitu, komputer masih saya bebani dengan shortcut dan banyak file yang berserakan di desktop. Gunanya adalah demi mencapai target secara cepat, mudah dilihat, mudah diakses. Beban lainnya adalah start-up Word, Outlook Express, peramban, dan pemutar musik. Kalau dinyalakan, butuh total waktu hampir 6 menit hingga komputer benar-benar siap dipakai dan semua aplikasi dalam keadaan normal. Sungguh, semua situasi itu sama sekali tidak membuat saya susah karena persis setelah saya mencet tombol 'on' komputer, biasanya saya tinggal pergi ke dapur untuk menjerang air, bikin kopi, dan balik lagi ke depan meja dalam durasi waktu yang kurang lebih sama dengan durasi di atas. Jadi, pas sudah. Apanya yang harus dibikin sedih?

Sesungguhnya, saya merasa asyik dengan keadaan CPU saya ini meskipun di masa itu CPU tersebut sudah sangat ketinggalan (CPU ini saya pakai sejak 2005 hingga 2012). Pasalnya, saya hanya menggunakan untuk olah kata-kata. Gambar dan desain sama sekali tidak, paling banter saya cuma pakai “paint”. Yang agak terasa berat hanya kalau saya membuka Adobe Audition. Lah, makanya, untuk apa saya pakai spesifikasi lebih tinggi lagi kalau hanya digunakan untuk Word saja?

Buat apa?

Lenovo Core Duo
Pada September 2008, datanglah ADSL (Speedy). Senang sekali karena dengannya saya bisa menggunakan internet dengan akses yang jauh lebih cepat. Di tahun itu pula, saya sudah merasa tidak begitu penting menonton televisi dan baca koran. Ya, sejak tahun itu, saya catat, saya sudah tidak nonton televisi dan baca koran lagi. Keduanya seolah tergantikan sepenuhnya oleh internet.

Nah, sekarang, di awal 2017, ketika kecepatan sudah melonjak ke 10 Mbps dengan IndiHome, didukung oleh CPU yang jauh lebih gesit, saya malah bingung. Kecepatan yang dari dulu diidam-idamkan itu ternyata malah jadi antiklimaks, seolah ia hanyalah halusinasi saja. Dulu itu, sembari streaming, saya bisa sambil lalu baca buku atau ngedit tulisan karena menunggu jaringan yang masih terasa rada lemot, namun kini hal itu tidak bisa dilakukan lagi. Sekarang, begitu kita klik video, streaming langsung ngebut. Film yang durasinya 120 menit seakan-akan bisa ditonton hanya dalam 15 menit saja.

Dampaknya? Musuh cepat terbunuh, pahlawan cepat menang.




Labels: , , ,




Hari-hari belakangan ini, fenomena klakson “telolet” menyebar di media sosial. Banyak sekali tagar atau ‘hestek’ yang mengacu kepada klakson bernada itu, terutama tagar #omteloletom (Om, telolet, Om!). Seperti biasa orang Indonesia, dalam menaggapinya, ada pula yang menggunakan ilmu cocokologi, mengutak-atik muasal kata lalu disimpulkan: telolet itu menyesatkan secara makna, terutama bagi kaum muslimin, karena ia merupakan simbol keagamaan Hindu. Akan tetapi, telolet tetap telolet, mumbul dan menjadi trending topic (topik yang paling banyak dibicarakan) sejagat. Dunia selebritis pun dibuatnya gempar. Seleb-seleb mancanegara ikut-ikutan menulis “telolet” atau “om, telolet, om” di Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya.


Fenomena ini, konon, bermula sejak ditemukannya segerombolan anak kecil di beberapa daerah di Jawa, seperti Jepara, Boyolali, Ponorogo, dan juga ruas jalan Pantura. Mereka biasanya berdiri di pinggir jalan, melambai, teriak, meminta sopir bus membunyikan klakson telolet itu. Sandi mereka adalah mengangkat tangan, menunjukkan jempol, hingga membawa spanduk bertuliskan “minta telolet” atau “om, telolet, om”, dlsb. Ada pula yang membawa kamera ponsel berkamera untuk merekamnya. Sopir-sopir bis sepertinya sudah paham kode itu sehingga apabila ada sekerumuman orang, terutama anak-anak di tepi jalan yang menunjukkan kode-kode seperti di atas, sontak mereka akan membunyikan klakson telolet-nya. Klik INI untuk mencoba!

Dengan demikian, fungsi klakson sebagai alat atau bahasa bunyi yang digunakan untuk meminta perhatian orang lain pun mulai bergeser. Klakson telah berubah fungsi sebagai hiburan. Nah, dari video-video dan foto yang disebar lewat media sosial inilah yang kemudian membuat "om, telolet, om" menjadi pembicaraan banyak orang hingga mendunia.

* * *


Sebelum bicara telolet, ada baiknya saya bahas dulu perihal klakson angin yang notabene menjadi bagian terikat komponen truk dan bus dan karena telolet itu merupakan keluarga besarnya.

Sejak dulu, truk-truk besar, seperti Fuso, sudah dibekali klakson angin (air horn), sebagaimana kapal laut dan kereta api. Klakson angin berbunyi karena membran yang ada di dalamnya mendapat tekanan angin yang kuat. Untuk membuka katup, klakson angin zaman dulu menggunakan lengan, manual, dengan cara menarik katup. Saat ini, pembuka katup tersebut telah dipindahtugaskan kepada peranti elektrik. Sebab itulah, klakson angin disebut juga klakson electro-pneumatic karena bunyi trumpet dihasilkan dari membran yang mendapatkan tekanan udara dari kompresor (untuk truk besar dan bus; atau tabung angin yang lebih dulu diisi dengan kompresor eksternal untuk truk kecil [seperti Colt Diesel, Isuzu Elf, dll]), namun katupnya dibuka oleh arus elektrik. Jelasnya, klakson angin atau air horn seperti ini berbeda dengan klakson keong atau klakson elektrik biasa.

Klakson ini sebetulnya hanya butuh tabung angin dan relay saja. Namun, untuk telolet, ia membutuhkan satu perangkat lagi, yaitu modul, semacam peranti elektronik yang dapat mengatur dan membagi arus kepada masing-masing trumpet dan dapat diatur sesuai selera. Seperti diketahui, awalnya, klakson angin itu menggunakan satu corong (trumpet). Trumpet seperti ini biasa digunakan oleh truk dan bus sebagai klakson bawaan. Yang masyhur buatan Hella. Ada pula yang menggunakan dua trumpet, namun bunyi bersamaan (maaf, bukan iklan: sekadar menyebut contoh bermerek Cicada). Pada awal tahun 1990-an, sempat pula populer klakson angin yang menggunakan dua corong namun suaranya bisa bergantian; “to-let” atau “te-lot” (sekadar menyebut contoh, bukan iklan, mereknya Kitahara). Klakson jenis ini kadang diistilahkan juga dengan “2 alternating notes” karena punya dua not atau nada yang berbunyi secara bergantian, bukan serempak.

Di antara itu, masih ada jenis klakson angin yang lain, menggunakan kompresor mini yang terpadu dengan klaksonnya. Pengembangan jenis ini adalah musical horn (sekadar menyebut contoh, bukan iklan, seperti merek Suzanna [Italia]). Cara kerjanya: kompresor mini meniupkan angin. Panjang-pendek dan tinggi-rendahnya nada diatur oleh sebuah lempengan yang memiliki lubang-lubang udara (besar-kecil, panjang-pendek). Lempengan tersebut berputar seiring putaran dinamo yang menghasilkan udara sehingga suara yang dihasilkan mirip musik instrumentalia. Namanya kompresor kecil, maka jelas suaranya tidak selantang klakson telolet yang sedang kita bicarakan.

Nah, yang terakhir, yang sekarang sedang ramai di tanah air, adalah klakson telolet. Klakson ini disebut juga dengan “3 alternating notes” hingga “6 alternating notes”, yaitu klakson yang memiliki 3-6 not atau nada yang bisa bergantian (yang pertama saya tahu bermerek Marco). Jadi, sekarang Anda dapat membedakan klakson ganda yang bunyi “bersamaan” seperti contoh di atas dengan klakson telolet ala Marco ini. Kata kunci perbedaannya ada pada “bersamaan/serempak” dan atau “bergantian”. Yang pertama hanya menggunakan relay, yang kedua dikendalikan oleh “modul”, sebuah peranti elektronik yang tidak dipasang pada klakson yang disebutkan sebelumnya.

Ini dia: Telolet!

Kata ‘telolet’ sendiri merupakan tiruan bunyi karena klakson tersebut memang terdengar demikian bunyinya (awalnya memang ada 3 trumpet, belakangan berkembang lebih dari 3 bahkan hingga 6 trumpet). Pada dasarnya, bunyi klakson telolet itu adalah tangga nada (mayor), yakni:
               te (1/do),
               lo (3/mi)
               let (5/sol).
Namun juga mungkin ditemukan klakson yang memiliki susunan not seperti ini:
               to (3/mi)
               le (4/fa)
               lot (5/sol)
mi-fa-sol (Marco)
Dengan demikian, apabila ketiga trumpet (pada susunan pertama) tersebut dibunyikan secara bersama (by pass), maka yang akan terdengar adalah chord mayor, bisa C mayor atau E mayor atau entahlah. Sejujurnya, Rhoma Irama sudah dari zaman dulu menyanyikan “telolet”. Ingat, kan, lagunya yang berjudul “Do Mi Sol” kala beliau berduet dengan Rita Sugiarto? Nah, itu dia. Jadi, sebetulnya, lagu tersebut bisa dipahami menjadi “te, lo, let, mari menyanyi… te, lo, let, mari menyanyi”. Sementara susunan nada yang kedua, bunyinya akan berebeda, namun tetapi memiliki “kesan telolet” yang dalam istilah Eki Setiawan dari PO Efisiensi itu bukanlah “te-lo-let”, melainkan “tolelot”. Singkatnya begitu.

contoh modul
Adapun perangkat yang mengatur distribusi arus ke masing-masing trumpet itu menggunakan modul elektrik. Cara kerjanya bergiliran (kurang lebih 1/3 detik). Ketika ditekan sekali, nada yang dihasilkan hanyalah satu nada saja, yakni “te (1/do)”. Apabila kita memencet tombol klakson lebih lama (anggaplah 1/2 detik atau 1 detik kurang sedikit), maka nada yang dihasilkan adalah bunyi “te (1/do)” sekaligus “le (3/mi)”. Dan jika kita menekannya lebih lama lagi (anggaplah 3 detik), maka ketiga (3) nada tersebut akan terus berbunyi secara berurutan menjadi “telolet…, telolet…, telolet…, dst.”

Pada perkembangan selanjutnya, modul dimodifikasi sehingga dapat mengatur arus secara bersilang, berurutan, bersamaan, cepat-lambat, selang-seling, dan semacamnya. Begitu pula, trumpet yang semula hanya tersedia dalam 3 not, kini sudah tersedia lebih dari itu (do, re, mi, fa, sol, dst.). Dan meskipun sudah menggunakan lebih dari 3 trumpet, masyarakat terlanjur dan tetap menyebutnya “telolet”. Singkat kata, mau dibikin menyanyi pun, klakson telolet itu bisa, bergantung modulnya (Saya punya pengalaman menggunakan 3 trumpet namun melepas modul elektriknya lalu menggantinya dengan 3 tombol terpisah sehingga klakson dapat dibunyikan sesuka hati karena telah berubah menjadi manual).

Cikal Bakal Fenomena Telolet

Dalam sebuah video dokumenter berdatum 2005, saya menemukan bus PO Sinabung Jaya (di Sumatera Utara) yang sudah menggunakan klakson telolet ini. Namun begitu, tidak banyak orang yang mempedulikan keberadaan jenis klakson bertangga nada tersebut. Klakson telolet ini muncul dan mulai ramai digunakan sekitar 2-3 tahun belakangan. (pertama kali saya menemukannya dalam satu topik di malilinglist bismania community [BMC], sebuah komunitas penggemar bis di Indionesia, kisaran tahun 2010 atau sebelumnya; lupa).

Maskot Tolelot PO Efisiensi
Di Jawa, atau bahkan Indonesia, sejarah telolet tidak dapat dilepaskan dari nama perusahaan otobus Efisiensi yang bermarkas di Kebumen. Menurut Eki Setiawan  dari  PO. Efisiensi, PO ini sudah menggunakan klakson—dalam versinya—“tolelot” (bukan “telolet”) sejak kisaran tahun 2007-2008, bermerek Marco. Ia menyebut begitu karena nada Marco adalah “mi-fa-sol” dan bukan “do-mi-sol”. Ia membeli klakson-klakson tersebut di Jedah (Saudi Arabia) yang lantas digunakannya untuk bus-bus Efisiensi karena ketika itu masih sulit mendapatkannya di toko-toko di Indonesia, tuturnya. Bahkan, Efisiensi sudah membuatkan maskot untuknya. 

Dalam catatan saya, hanya Efisiensi-lah yang dalam SOP-nya mematenkan klakson telolet untuk semua (catat: semua) armadanya. Klakson telolet ini dipasang di atas kaca depan (bukan di balik bumper sebagaimana kebanyakan) dan dilindungi keranjang besi (mungkin demi pengamanan). Semua armada Efisiensi sudah menggunakan telolet ketika armada-armada lain baru satu-dua yang menggunakannya.

Aliran-Aliran dalam Telolet

Menurut saya, telolet pun ada aliran dan isme-nya (Ini pendapat sementara saja; Anda dapat menambahkan atau bahkan tidak menyetujuinya sama sekali). Tentu saja, maksud pengelompokan ini bukan maksud untuk mencari-cari perbedaan, melainkan hanya untuk membedakan jenis-jenis dan ragam serta penggunaannya. Beruntung, saat ini kita akan diceraiberaikan oleh ideologi dan partai serta berbagai kepentingan, untung ada telolet yang mempersatukan.

Adapun aliran yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Aliran Telolet Ortodok: paham ini menggunakan klakson telolet biasa dan digunakan sebagai fungsi klakson sebagaimana fungsi dasar klakson pada umumnya. Sopir-sopir aliran ini mungkin sesekali saja akan melayani permintaan anak-anak di tepi jalan ketika diminta membunyikan telolet-nya. Modul yang digunakan pun modul standar, yakni satu varian bunyi saja.

Aliran Telolet Progresif: aliran ini adalah “ahlut telolet”, bervisi-misi telolet; sebentar-sebentar telolet. Mereka biasanya tidak puas dengan hasil rakitan pabrik. Modul akan diubah hingga ke beberapa jenis varian. Corong atau trumpetnya pun juga tidak puas jika hanya menggunakan 3 saja. Golongan ini akan menggunakan 3 corong trumpet namun dengan berbagai varian, atau bahkan hingga 6 trumpet dengan sekian banyak lagi varian bunyinya. Makanya, kita lihat golongan ini akan sangat menghibur para pemburu telolet tapi boleh jadi juga akan sangat menyiksa orang-orang yang tidak menyukainya. Nada-nada yang dibunyikan pun bukan lagi sekadar “do-mi-sol” atau “mi-fa-sol”, tapi malah bisa menyanyikan lagu sejenis “Abang Tukang Bakso” atau “Ondel-Ondel”.

Aliran Telolet Radikal: nah, aliran ini agak rawan karena mereka sama sekali tidak akan menggubris permintaan telolet. Sopir-sopir aliran ini hanya mau membunyikan klakson untuk diperdengarkan ke telinga orang lain hanya agar mereka menyingkir. Para sopirnya “sangat ingin diperhatikan” namun “susah untuk memperhatikan”. Jangan harap mereka mengalah. Prinsip “dilarang membuang klakson ke sembarang telinga” tidak laku untuk aliran ini. Maka, saya sedih dan khawatir, golongan mereka ini bisa jadi akan menghancurkan visi-misi telolet kebangsaan yang sudah dibangun bersama-sama sehingga ia menjadi tren yang mendunia.

Sesungguhnya, saya masih mendambakan yang lebih dari ini semua, yaitu suasana jalan raya yang ramah, yang tidak berisik, di mana klakson dibunyikan karena memang harus dibunyikan, bukan karena iseng apalagi karena amarah. Saya membayangkan masa depan lalu lintas dan jalan rayanya—yang semakin kejam terhadap para pejalan kaki karena sempadan jalannya semakin hari semakin dihabisi dan pohon-pohon di kedua sisinya tak henti ditebangi—masih akan lebih baik lagi, lebih ramah dan menghargai sesamanya.



Labels: , , , , , , ,




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) becak. setiakawan (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (4) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (22) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog